Sunday, December 29, 2013

Keutamaan Jujur

Jika kami berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk, sebenarnya (keburukan) itu bagi dirimu sendiri. (QS. Al-Israa’ (17):7)
Jika kami berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk, sebenarnya (keburukan) itu bagi dirimu sendiri.
(QS. Al-Israa’ (17):7)

Seorang kaya raya yang mengalami depresi membuang-buang tumpukan uangnya begitu saja hingga seolah-olah terjadi hujan uang.
Kejadian nyata ini terjadi di negeri Sakura. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata tak seorang pun dari masyarakat yang berada di sekitar yang mengambil uang tersebut. Walaupun uang itu berserakan dimana-mana tak ada yang memungutnya. Seorang petugas kebersihan menyapu uang tersebut dan mengembalikan pada pemiliknya. Bagi masyarakat disana, adalah pekerjaan hina mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Bayangkan jika kisa di atas terjadi di Indonesia. Apakah masyarakat Indonesia juga akan membiarkan uang tersebut dan tak ada yang memasukkan ke dalam kantongnya.

Indonesia adalah negara yang dikenal tinggi angka korupsinya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kejujuran masuh rendah di Indonesia. Agak mengherankan, Indonesia yang seluruh penduduknya menganut agama, sedangkan semua agama memerintahkan jujur, korupsi menjadi hal yang sangat biasa.

Banyak orang yang memahami kejujuran hanya sebatas perintah agama. Namun sesungguhnya kejujuran adalah kebutuhan dan keinginan setiap manusia. Atasan selalu menginginkan karyawan yang jujur, begitu juga karyawan menginginkan pimpinan yang jujur.

Kejujuran tidak hanya penting bagi individu, namun juga bagi keberlangsungan kehidupan sebuah organisasi, keluarga, korporasi, maupun bangsa. Banyak institusi yang hancur karena tidak ada nilai kejujuran yang melandasinya.

Kejujuran bukan perintah Allah yang membebani manusia. Jika seseorang jujur, itu bukan untuk kepentingan Allah, namun untuk dirinya sendiri.

Korupsi dan kejujuran adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio, kata kerjanya corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok. Sedangkan jujur yang bahasa Inggrisnya honest pun berasal dari bahasa latin honestus (honorable) atau honos (honour), yang berarti kehormatan, kemurnian, atau reputasi.

Korupsi selain tidak terpuji juga senantiasa merugikan. Sejak dulu hingga kini korupsi selalu membawa pada jurang kehancuran. Namun sayang banyak manusia yang mengabaikan hal ini.

Banyak orang takut jujur, karena kadang kejujuran mendatangkan konsekuensi. Jujur bisa mengakibatkan resiko kehilangan harta benda, bahkan kejujuran juga bisa mengundang caci maki, kebencian, fitnah, dan permusuhan dari orang di sekitar.

Namun kejujuran sebagaimana banyak diceritakan dalam berbagai kisah, senantiasa menimbulkan simpati dan rasa kagum. Mengapa?
Kejujuran sesungguhnya adalah suara hati setiap manusia yang bersumber dari nama Sang Pencipta yaitu Al-Mu’min, Yang Maha Terpercaya.
Ketika seseorang merefleksikan sufat jujur sesungguhnya ia sedang berupaya menyerasikan perbuatannya dengan sifat=sifat fitrah terdalam miliknya sendiri. Karena itu, ketika seseorang melakukan kejujuran, maka sesungguhnya ia sedang dekat dengan Sang Pencipta. Hal ini menimbulkan rasa bahagia di hati manusia.

Al-Qur’an sangat menekankan kejujuran. Kata jujur (shiddiq) dinyatakan di dalam Al-Qur’an dalam frekuensi yang cukup tinggi, yaitu sebanyak 154 kali. Kata shiddiq adalah bentuk penekanan dari shadiq, yang berarti orang yang didominasi oleh kejujuran.

Shiddiq atau jujur adalah sifat yang di anugerahkan Allah kepada para nabi dan rasul. Oleh karena itu jujur merupakan jalan mencapai kedudukan orang-orang mulia. Nabi Muhammad berpesan bahwa wajib atas kamu jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga.

Kejujuranyang dipegang kuat dan teguh akan mendatangkan pertolongan dan karunia Allah. Hal itulah yang akan mendatangkan kemenangan.



 >>><<<

No comments:

Post a Comment