Monday, October 7, 2013

BENDE MATARAM - "Salah Paham" Jilid 3b

komik bende mataram
Sangaji dan Sanjaya sudah sejak tadi terkunci mulutnya. Mereka berdua gemetaran, meringkaskan badan dan menyusup ke lambung ibunya masing-masing.

Mempertimbangkan keadaan keluarganya, Made Tantre habis kesabarannya. Serentak ia lari ke dapur dan datang kembali dengan membawa kayu menyala. Segera ia menyalakan lampu. Kemudian berbareng dengan nyala lampu, ia berteriak nyaring,

“Berhenti! Mengapa kalian saling berhantam? Bukankah kalian kami undang untuk menjadi saksi hak milik pusaka kami?”

Mereka berhenti berkelahi dengan serentak. Tetapi bukan karena teriakan Made Tantre, melainkan karena sinar terang yang menerangi ruang rumah. Mereka saling memandang dengan pandang mengancam dan menyiasati. Raut muka mereka bengis dan hawa pembunuhan mulai terasa.

Seketika itu di dalam rumah hanya terdengar napas mereka. Made Tantre bergemetaran karena menahan marah. Ingin ia mendepaki muka mereka, andaikata mereka bukan kepala-kepala kampung yang harus dihormati.

Mendadak ia mendengar suara lantang dari serambi depan. Suara itu mengalun dan menusuk seluruh penjuru. Ia kaget dan cepat-cepat memepet dinding.

“Aku Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi. Ada sesuatu hal yang harus kusampaikan kepadamu. Kuharap jangan salah paham!” bunyi suara itu.

Jahanam mana lagi yang datang? pikir Made Tantre. Dia menoleh kepada Wayan Suage minta keyakinan. Waktu itu Wayan Suage sedang memusatkan pendengarannya, menangkap suara kata-kata yang terucapkan dengan pelahan dan terang. Ia terkejut. Suara itu begitu riuh seperti guruh. Pastilah yang datang bukan sembarangan orang.

“Wayan!” bisik Made Tantre. “Apa kata hatimu?”

“Jangan bergerak. Tunggu! Dia pasti datang ke mari,” jawab Wayan Suage berbisik pula.

Waktu itu Wirapati berjongkok ketika melihat sinar mengejap. Sebenarnya tak usahlah dia berbuat begitu, karena sinar yang mengejap adalah nyala pelita yang sedang disulut Made Tantre. Tapi oleh pengalamannya di tengah perjalanan tadi, ia perlu bersikap waspada. Bukankah pemuda ganas yang membunuh si pendek gemuk belum menampakkan diri?

Ia menunggu beberapa saat. Jawaban tetap tak diperolehnya. Dalam rumah sunyi hening. Hati-hati ia merangkak maju menjenguk ke dalam. Sekarang dilihatnya nyala pelita menerangi ruang sana. Nampak pula ada beberapa bayangan berombak-ombak pada dinding. Cepat ia berdiri dan melompat ke belakang tiang guru. Dilihatnya sepuluh orang bersikap diam tak bergerak. Yang empat orang terdiri dari dua perempuan dan dua kanak-kanak. Yang enam, laki-laki semua. Apa yang sedang dikerjakan? Sebagai murid Kyai Kasan Kesambi yang sudah berpengalaman, segera ia dapat membaca kesan muka mereka masing-masing. Mendadak pada saat itu di atap rumah terdengarlah suara membentak.

“Semua jangan bergerak dan jauhilah meja!”

Wirapati segera mengenal suara itu. Ah, pikirnya. Itulah si pemuda ganas yang membunuh si pendek gemuk. Aku harus berhati-hati. Nampaknya di dalam rumah ini telah terjadi sesuatu yang menegangkan.

Tetapi keenam laki-laki yang berdiri tegang tetap berada di tempatnya, seolah-olah tak mendengarkan ancaman itu. Diam-diam hati Wirapati tergetar. Kalau pemuda itu sampai menurunkan tangan jahatnya, bagaimana mereka dapat mengelakkan diri?

Terdengarlah kemudian suara tertawa dingin di atas atap. Kemudian dengan kesiur angin ringan, turunlah si pemuda ke tanah dengan sekali melompat.

Ia adalah seorang pemuda yang berumur kurang lebih 24 tahun. Wajahnya agak pucat, tetapi tampan dan bermata ningrat. Pakaian yang dikenakan terbuat dari kain mahal. Ia menyengkelit sebilah keris melintang perutnya. Mulutnya menyungging senyum manis. Seumpama Wirapati tak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, tak percaya kalau pemuda itu dapat berlaku ganas.

“Hai! Apa kalian tak dengar perintahku!” bentaknya tajam.

Masih saja keenam orang itu tak menghiraukan. Tiba-tiba kakek yang berada di timur (dia Kepala Kampung Karangtinalang mengayunkan tangannya dan bergerak hendak mencakar muka si pemuda. Cepat pemuda itu mengelak, terus maju selangkah. Melihat si pemuda melangkah maju, Kepala Kampung Krosak yang berada di sebelah utara mengemplang kepalanya. Tetapi gerak-gerik si pemuda itu gesit. Sedikit ia menggeser tubuh dan kemplangan Kepala Kampung Krosak menumbuk udara kosong.

Medapat bantuan Kepala Kampung Krosak, hati Kepala Kampung Karangtinalang jadi mantap. Ia menerjang dan menyodokkan tangannya. Tangannya sebelah kiri dipentang siap menerkam dada. Ini hebat!

Diam-diam Wirapati memuji dalam hati. Tetapi ilmu berkelahi si pemuda benar-benar aneh dan bagus. Dengan tersenyum merendahkan lawan, mendadak ia menangkis dan membalas menyerang. Kedua kakek itu dilawannya dengan gampang.

“Iblis! Siapa kamu? Hayo mengaku, apa kauingin juga memiliki pusaka ini,” bentak Kepala Kampung Krosak.

Si pemuda membalas bentakan itu dengan tertawa dingin. Tiba-tiba tubuhnya melesat dan lengan Kepala Kampung Krosak kena disambar dan dipatahkan sampai berbunyi berderaki. Alangkah terkejut Kepala Kampung Karangtinalang menyaksikan lengan Kepala Kampung Krosak kena dipatahkan. Buru-buru ia menarik serangannya dan bersikap mempertahankan diri. Tetapi terlambat. Dia pun terserang si pemuda. Tahu-tahu ia terbanting ke tanah. Betisnya patah tak berdaya, sehingga ia jatuh tengkurap tak berkutik lagi.

Mendapat kemenangan itu, si pemuda mendongakkan kepala. Kemudian tertawa dingin.

“Siapa yang salah. Bukankah aku tadi memberi perintah supaya kalian menjauhi meja? Nah, siapa maju lagi?”

Wirapati mendongkol mendengar sumbar si pemuda. Sikapnya yang sombong itu benar-benar memuakkan hati. Hati ksatrianya lantas bangkit. Mendadak ia melihat si pemuda itu mengamat-amati perempuan yang berdiri memepet dinding mendekap bocah. Itulah Sapartinah, isteri Wayan Suage.

Dia sesungguhnya seorang perempuan berwajah manis. Hidungnya mancung. Matanya bersinar. Alisnya tebal dan mempunyai tahi lalat di atas mulutnya. Umurnya belum lagi mencapai 22 tahun . Kulitnya kuning langsat. Perempuan seumur dia cepat menarik hati laki-laki yang sudah berpengalaman. Itulah sebabnya maka tak mengherankan kalau si pemuda tertegun melihat kecantikannya.

“Isteri siapa dia?” tanyanya sambil membagi pandang.

Tidak ada jawaban.

“Isteri siapa dia?” ia mengulang. Karena tetap tidak ada jawaban, ia meneruskan, “Bagus! Tidak ada yang mengaku. Kalau begitu kepunyaan umum.”

Mendengar ucapannya Made Tantre tak dapat mengendalikan hatinya. Tak rela ia mendengar isteri sahabatnya direndahkan demikian rupa. Secepat kilat ia menjejak tanah dan terbang menerkam si pemuda.

Pemuda itu nampak terkejut. Ia mengibaskan tangannya, tahu-tahu Made Tantre jatuh terkulai. Wirapati kaget bukan kepalang. Ia tahu apa sebabnya. Pemuda itu melepaskan senjata rahasia seperti yang dilakukan terhadap si pendek gemuk. Menyaksikan keganasan si pemuda, darahnya seketika mendidih. Ia lantas meloncat sambil berjaga-jaga.

Serangan Wirapati cepat dan tak terduga. Pemuda itu tak dapat mengelakkan diri. Terpaksa dia menangkis. Tetapi kena benturan tangan Wirapati, ia bergetar mundur dua langkah, la heran atas kejadian itu. “Jahanam, siapa kamu?”

“Selama kamu tak mau memperkenalkan namamu, apa perlu aku meladeni tampangmu?” Wirapati menyahut. Ia menoleh dan melihat tubuh Made Tantre tak berkutik. Rukmini merenggutkan dekapan anaknya dan lari menubruk. Cepat-cepat Wirapati menghalang-halangi.

“Jangan sentuh! Dia terkena racun!”

Mendengar ucapannya semua jadi terkejut. Tetapi Rukmini tak mempedulikan. Ia memaksa maju merangsak. Terpaksa Wirapati mendorongnya pergi. Karuan Rukmini menjerit dan jatuh pingsan. Anaknya lari menghampiri dan menangis ketakutan.

“Bagus! Rupanya kaukenal senjatakur teriak si pemuda.

“Mengapa tidak? Bukankah tadi kau juga menurunkan tangan jahatmu ke salah seorang rombongan penari?” Wirapati mendamprat.

Si pemuda tertegun. Kemudian tersenyum dingin. Berkata, “Eh, agaknya ada juga yang tahu. Hm!”

Dada Wirapati serasa akan meledak. Ia melesat dan mengirimkan gempuran. Si pemuda tak berani menangkis. Ia mengendapkan diri dan bergulingan ke tanah. Tetapi Wirapati tak memberi kesempatan dia bernapas.

Secepat kilat ia menyapu dengan kakinya, sambil melindungi dadanya. Diserang demikian, si pemuda tak menjadi gugup. Kakinya menjejak tanah. Kemudian seperti seekor ikan melentik dari genggaman tangan, ia meloncat tinggi sambil menyerang kepala Wirapati. Kedua tangannya disodokkan menggempur kaki. Kemudian dengan berjumpalitan ia mementalkan diri. Si pemuda berjumpalitan pula di udara dan jatuh berdiri dengan sempoyongan.

“Bahaya!” terdengar suaranya di antara giginya.

Pada saat itu tubuh Made Tantre telah menjadi kaku. Wayan Suage tertegun karena terkejut. Ia berdiri terpaku di tempatnya. Matanya terbeliak tak tahu apa yang harus dilakukan.

Sebaliknya Kepala Kampung Kemarangan dan Kepala Kampung Gumrenggeng berbuat lain.

Seperti telah berjanji mereka menggunakan kesempatan itu untuk menyambar kedua pusaka Pangeran Semono. Niatnya begitu berhasil membawa kedua pusaka itu, kemudian akan kabur.

Tetapi justru karena kedua-duanya mempunyai tujuan yang sama, malahan mereka jadi saling bentrok. Kepala Kampung Gumrenggeng lantas saja menyiku saingannya.

Dan Kepala Kampung Kemarangan mengemplang Kepala Kampung Gumrenggeng

Perhatian mereka berdua sedang terpusat pada pusaka itu, sehingga tak sempat menangkis. Maka siku dan kemplangan tangan mengenai tepat sasarannya. Keduanya kaget dan batal mencapai pusaka.

Wayan Suage mendadak sadar karena pergulatan itu. Tadi dia tertegun. Kini ia tergugah, kalau matinya Made Tantre karena membela kehormatan isterinya. Mana bisa ia hanya berpeluk tangan. Seketika itu juga timbullah rasa dendamnya, benci dan jijik. Ia melihat kedua kepala kampung yang sedang meliuk-liuk kesakitan. Deru hatinya lantas saja ditumpahkan kepada mereka. Secepat kilat dan di luar dugaan, ia menyambar keris pusaka Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram. Dengan kedua pusaka itu, ia menggempur mereka berdua.

Kedua kepala kampung itu melihat datangnya bahaya. Mereka hendak meloncat mundur. Tetapi serangan Wayan Suage sangat cepat. Sebelum mereka sadar apa yang terjadi, kedua pusaka sakti telah menggempurnya. Dengan menjerit mereka mencoba bertahan. Tetapi bagaimana mereka kuasa melawan kesaktian kedua pusaka itu. Mereka terjungkal ke tanah dan mati.

Hawa pembunuhan kini mulai merangsang. Wayan Suage menggeram penuh dendam. Sedangkan Sapartinah memekik tinggi sambil menutupi mukanya. Tak rela ia menyaksikan suaminya menjadi seorang pembunuh, namun tak ada jalan lagi.

Tiba-tiba di luar dinding terjadilah suatu keributan. Rombongan penari yang mengepung rumah mulai berteriak dan merangsak maju. Terasa kini udara jadi panas. Wirapati menoleh.

Ah! la mengeluh dalam hati. Rupanya tali yang melingkar rumah bukan tali beracun, melainkan tali berminyak tanah. Mereka bermaksud membakar rumah.

Bersambung....

No comments:

Post a Comment