Sunday, October 6, 2013

BENDE MATARAM - "Salah Paham" Jilid 3a

komik bende mataram
Tak pernah mereka bermimpi, kalau rumah tangganya yang begitu tenteram damai tiba-tiba mengalami gelombang malapetaka dahsyat. Kesan pertempuran itu mengusik ketenteraman hatinya. Mereka sadar, ekornya masih panjang. Pastilah gerombolan anak-buah sang Dewaresi tak mau sudah, manakala mereka belum dapat merampas kedua pusaka Pangeran Semono.

“Apa kita serahkan saja?” Wayan Suage minta pertimbangan.

Isterinya segera menyetujui.. Begitu pula Rukmini. Mereka sepaham, bahwa tidak ada untungnya memiliki kedua pusaka itu.

“Sawah kita sudah cukup lebar. Rumah kita besar pula. Sapi dan kerbau kita miliki. Pendek kata, cukuplah buat hidup tenteram. Anak-anak kita takkan kelaparan. Hidup macam apa lagi yang kita inginkan?” kata Rukmini.

Besar pengaruhnya ujar mereka berdua terhadap Wayan Suage. Tetapi Made Tantre berpaham lain. Katanya, “Kita tak berhak mengadili kedua pusaka itu. Hajar Karangpandan bukanlah orang sembarangan. Kalau sampai mempercayakan kedua pusaka itu kepada kita, pasti ada maksudnya. Seumpama kedua pusaka itu lantas kita serahkan begitu saja kepada mereka yang menghendaki, apa kata Hajar Karangpandan? Kita tahu, dia bertahan mati-matian dan berjuang dengan segenap hatinya. Dia dapat datang pergi sesuka hati seperti burung rajawali mendaki angkasa. Ah, harga diri kita takkan dipandangnya lagi. Dia dapat menimbulkan malapetaka jauh lebih mengerikan daripada gerombolan orang-orang Banyumas tadi.”

“Tapi soalnya, mereka berjumlah besar. Sedangkan kita hanya dua orang,” bantah Wayan Suage.

“Itu gampang. Kita lapor ke Kepala Kampung. Kita taruhkan kedua pusaka itu dalam penjagaan seluruh penduduk. Nah, apakah mereka mampu merebut?”

Kata-kata Made Tantre masuk akal pula. Maka pada sore harinya mereka lapor kepada Kepala Kampung. Tetapi setelah Kepala Kampung itu mendengar tentang kedua pusaka Pangeran Semono, timbul pulalah keinginannya hendak mengangkangi.

Kepala Kampung Karangtinalang seorang laki-laki berumur 60 tahunan. Tetapi pandang matanya masih memancarkan sinar perjuangan hidup jasmaniah. Dengan diam-diam ia memanggil dua orang pembantunya. Kemudian bergegas mengunjungi rumah Wayan Suage dan Made Tantre agar mengawalnya dari jauh.

Made Tantre yang mempunyai penglihatan cermat, segera memperoleh kesan tertentu. Celaka! katanya dalam hati. Orang inipun mempunyai nafsu serigala pula. Maka ia membisikkan kesannya kepada Wayan Suage.

Wayan Suage percaya benar kepada prasangkanya, maka ia berbisik kepada Sapartinah agar memanggil Kepala Kampung Kemarangan, Krosak dan Gemrenggeng. Mereka akan dijadikan saksi hak milik kedua pusaka. Maka pada senja hari itu, berturut-turut datanglah kepala-kepala kampung tiga desa.

Wayan Suage menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Beramai-ramai mereka memeriksa kedua pusaka Pangeran Semono yang diletakkan di atas meja. Pandang mereka mendadak berubah seperti orang kelaparan. Tetapi mereka tidak berani menyatakan keinginan hatinya terang-terangan. Juga Kepala Kampung Karangtinalang agak segan pula. Untuk menutupi kata hatinya, mereka berbicara tentang pusaka-pusaka kuno yang bertuah. Dihubungkan pembicaraan itu kepada penobatan Sultan Yogyakarta.

“Siapa mengira. Raden Mas Sundara akhirnya naik tahta kerajaan,” kata Kepala Kampung Karangtinalang. “Tadinya kukira Kanjeng Gusti Anom Amengkunegara atau Kanjeng Pangeran Arya Ngabei.”

“Ah! Kanjeng Arya Dipasana atau Kanjeng Pangeran Arya Kusumayuda lebih tepat,” sambung Kepala Kampung Gumrenggeng. “Sebab mereka berdua lebih perwira dan perkasa.”

“Siapa bilang,” bantah Kepala Kampung Kemarangan. “Meskipun mereka sakti, apakah dapat menandingi kekeramatan tombak Kyai Pleret. Raden Mas Sundara beruntung memperoleh warisan pusaka. Sekiranya tidak, beliau pun takkan dapat naik tahta.”

“Hm!” Kepala Kampung Krosak memotong. “Berbicara tentang pusaka inilah pusaka sakti tak terlawan. Kalian tahu, Pangeran Semono dulu adalah cikal-bakal kerajaan Jawa. Dia putera Bathara Karawelang, Raja Loano. Pusaka Raja Karawelang sebenarnya tiga buah. Yang pertama: Bende Mataram, kedua: keris Kyai Tunggulmanik dan ketiga Jala Karawelang. Barang siapa memiliki ketiga pusaka itu, akan dapat merebut tahta kerajaan Jawa.”

“Mengapa?” mereka bertiga menyahut berbareng.

“Mengapa?” Kepala Kampung Krosak mengulang. “Dia akan sakti tak terlawan. Suaranya seperti guntur. Gerak-geriknya gesit bagaikan kilat. Otaknya menjadi cerdas tanpa guru. Sekali melihat lantas bisa. Dia akan di-sujudi jin, setan dan iblis di seluruh kepulauan. Mereka bersedia menjadi bala tentaranya yang kelak disebut balatentara sirolah. Nah, siapa dapat melawan? Apa kalian sanggup berlawanan dengan jin, setan dan iblis yang tak nampak oleh mata?”

Dengan disinggungnya nama kedua pusaka ftu. gejolak hati mereka tak tertahankan lagi. Hereka lantas saja meruntuhkan pandangan kepada pusaka Bende Mataram dan Keris Kyai Tunggulmanik.

“Pernahkah kamu melihat pusaka Jala Karawelang?” ujar Kepala Kampung Karang-tinalang.

“Bagaimana mungkin aku kuasa melihatnya,” sahut Kepala Kampung Krosak. “Menurut tutur kata orang-orang kuno, jala itu tidak nampak. Dia selalu bersama dengan kedua pusaka ini.”

“Kalau begitu, pasti pusaka Jaja Karawelang berada di sekitar kedua pusaka ini,” seru Kepala Kampung Karangtinalang. Tangannya kemudian meraba-raba, karena napsunya sangat besar hendak menjamah kedua pusaka itu. Tetapi belum lagi dia menyentuh, mendadak tangan Kepala Kampung Kemarangan menyambar cepat.

“Jangan sentuh! Kau tak berhak!” bentaknya. Kemudian seperti seorang majikan yang berhak melarang pegawainya, ia berganti menurunkan tangan. Tetapi maksudnya dihalang-halangi Kepala Kampung Gumrenggeng.

“Hai beraninya kamu menghalangi aku?” bentaknya.

“Mengapa tidak?” Kepala Kampung Gumrenggeng membalas membentak. “Kalau dia tak berhak, kamupun tak berhak pula. Memang kamu ini siapa?”

“Bangsat!” maki Kepala Kampung Kemarangan.

Dimaki demikian, meledaklah amarah Kepala Kampung Gumrenggeng. Tanpa berpikir panjang lagi, tangannya menyambar, Kepala Kampung Kemarangan terkejut. Gugup ia menangkis dan sebentar saja mereka berdua telah berhantam seru.

Melihat mereka berdua saling berhantam Kepala Kampung Karangtinalang mempergunakan kesempatan itu. Ia tak mempedulikan lagi pandang tajam Wayan Suage dan Made Tantre yang berdiri di pojok. Pikirnya, mereka kan penduduk kampungku nanti tak akan menghalangi maksudku.

Tetapi ia melupakan Kepala Kampung Krosak yang mengincar pula pusaka itu. Maka begitu dia hendak menubruk kedua pusaka Pangeran Semono, tangannya kena dipapas &iju Kepala Kampung Krosak. Mereka berdua lantas berdiri. Kedua-duanya sudah berumur lanjut. Kumis, jenggot dan alisnya memutih kapuk. Pandang matanya suram kuyu. Mereka berusaha memperkasakan diri. Kemudian saling menerjang dengan sekuat tenaga.

Mereka berbenturan dan tergetar mundur dua langkah. Tubuhnya bergoyang-goyang. Tapi seperti kemasukan setan mereka menerjang lagi dan bergumul rapat pepat.

Jaman dulu tak gampang orang jadi Kepala kampung. Dia harus seorang perwira, berwibawa, berani dan cerdik sebagai syarat mutlak memperoleh kewibawaan. Itulah sebabnya mereka kebanyakan terdiri dari bekas jagoan, pembegal atau maling ampuh. Maka tak mengherankan, kalau mereka pandai berkelahi dan ulet.

Waktu itu senja rembang telah tiba. Dalam rumah panjang itu seketika menjadi gelap. Tubuh mereka yang berkelahi berkelebatan seperti bayangan. Mereka mengadu ketajaman pendengaran dan berpedoman pada kesiur angin belaka.

Keempat orang kepala kampung itu sebenarnya tak mempunyai musuh tertentu. Mereka hanya bersedia bertempur demi kedua pusaka. Siapa saja yang menghampiri meja, lantas saja digempur bersama. Karuan saja, pertempuran itu berlangsung sangat kacau.

Mula-mula, Kepala Kampung Kemarangan berhantam dengan Kepala Kampung Gumrenggeng. Tiba-tiba mereka melihat pergulatan mati-matian antara Kepala Kampung Karangtinalang dan Kepala Kampung Krosak. Ketika kedua kepala kampung itu bergeser tempat sehingga mendekati meja, dengan berbareng mereka menyerang. Karena serangan itu, pergulatan bubar tersentakkan. Mereka mendongkol dan permusuhannya kini beralih kepada Kepala Kampung Kemarangan dan Kepala Kampung Gumrenggeng.

“Kalian manusia rendah!” maki Kepala Kampung Karangtinalang.

“Apa kau bukan bangsa tikus pula?” Kepala Kampung Gumrenggeng membalas bentakan itu. Ia mengayunkan tinju. Cepat-cepat Kepala Kampung Karangtinalang menangkis. Maka bentroklah adu tenaga itu, sehingga kedua-duanya mundur sempoyongan.

Dalam pada itu Kepala Kampung Krosak melayani Kepala Kampung Kemarang, yang merangsak dengan hebat. Mereka mencakar dan menendang sejadi-jadinya. Kedua-keduanya mengerang kesakitan, tetapi tak mau mengalah. Mereka berputar memasuki gelanggang pertarungan Kepala Kampung Karangtinalang dan Kepala Kampung Gemrenggeng. Justru waktu itu, Kepala Kampung Gemrenggeng sedang menyerang punggung. Karuan saja mereka berdua terkejut. Buru-buru mereka menangkis berbareng. Prak!

Mereka terjengkang ke samping. Mendadak Kepala Kampung Karangtinalang berjongkok dan mengirimkan tendangan. Serangan ini samasekali tak diduga oleh ketiga-tiganya. Lagipula, mereka bertiga tadi terkejut karena bentrokan tanpa rencana. Itulah sebabnya, maka masing-masing kena hajaran tendangan kaki Kepala Kampung Karangtinalang. Mereka lantas kalangkabut dan berbareng merangsak maju.

Sudah barang tentu, Kepala Kampung Karangtinalang ketakutan diserang bertiga. Untung ia tak kehabisan akal. Cepat ia merangkak menjauhi dan mengumpet di bawah meja. Napasnya tersengal-sengal menyekat leher. Dalam hati ia mengharap kedatangan dua pembantunya yang tadi disuruhnya mengawal dari jauh. Tetapi semenjak ia masuk ke rumah Wayan Suage dan Made Tantre, mereka jauh berada di luar. Apakah mereka mengetahui apa yang telah terjadi pada petang hari itu.

Memikirkan hal itu, ia merayap keluar dari bawah meja. Hatinya tak rela jika belum dapat menggenggam pusaka Pangeran Semono sebagai miliknya. Tetapi begitu dia keluar dari kolong meja, segera ia terlibat dalam pertempuran kalang kabut. Ia lantas menerjang dan mengamuk serabutan.

Pada saat itu Wayan Suage dan Made Tantre yang berdiri di luar gelanggang tercengang-cengang menyaksikan terjadinya pertarungan. Lama kelamaan mereka mendongkol, jengkel dan geli. Bagaimana tidak?

Sama sekali tak diduganya kalau mereka berempat yang diharapkan menjadi saksi hak milik barang pusaka, malahan saling berhantam begitu mati-matian. Perkakas rumahnya rusak berantakan. Sedangkan Sapartinah dan Rukmini terlihat memepet dinding dengan wajah ketakutan. Maklumlah, selama mereka mendirikan rumah tangga, belum pernah sekali pun menyaksikan orang bertempur di depan hidungnya. Apa lagi mereka yang bertempur adalah kepala-kepala kampung yang mereka hormati.

Bersambung....

No comments:

Post a Comment